Minggu, 11 Maret 2012

Melayu-Core dan Gerakan Anti Musik Pop Melayu!






"...gelombang kedua musik melayu, sebut saja Heavy Melayu atau Melayucore, karena lebih menampilkan lirik cinta yang menyanyat hati dengan model video klip cantik lagi galau di putusin pacarnya, lebih mengerikan ketimbang 40 tahun yang lalu..." -Teriakan Oi!

Musik Melayu adalah musik asal Indonesia dan Malaysia. Musik Melayu sendiri kemudian berkembang menjadi dangdut dan pop melayu. Dangdut mengalami perubahan besar yang di motori oleh Soneta Group pimpinan Rhoma Irama pada tahun 1970-an, dan mendapat pengaruh besar dari musik gambus Arab dan bahkan musik Latin Amerika! Sementara pop melayu sudah mulai di tenarkan pada saat di keluarkannya beberapa album pop melayu oleh kelompok musik pop Koes Plus di masa jayanya. Koes Plus? Pengusung Rock n Roll Indonesia nyanyiin Melayu. But, damn, apakah di blog Teriakan Oi! kita akan membicarakan apa itu pop melayu dan asal usulnya? Mungkin tidak, tapi jika anda seorang yang Anti-Musik Melayu, hmmm, think again? Kita gak bisa menghina atau menjelek-jelekan,  tanpa tahu apa itu pop melayu. Jadi mari kita yang agak sinis atau benci dengan Melayu bersikap fair dan tahu dulu sejarahnya.

Tapi sebelumnya, ada satu pertanyaan sebelum kita mulai. Apa yang anda pikir tentang musik Melayu? Musik cengeng, musik gagal, lemah? musik lebay dengan lirik cinta menyayat hati #melayu emocore? hahaha!! atau band ST12 yang tampil di tivi dan bermain over played dengan video klip cinta dan model cantik yang sedih di tinggalin pacarnya? menurut saya itu semua benar. tapi gak ada salahnya, kita kembali jauh 40-60 tahun yang lalu, dan cari tahu! Sebenarnya asal-usul gerakan Anti-Melayu movement #biar keren!, sudah di mulai jauh sebelum gelombang kedua musik melayu, #biar apa nih? hehe, yang di 
pelopori oleh band ST12, Wali, dan Kangen di mulai. Yaitu di tahun 60-70an di masa orkes Melayu Chandralela dan Elvy Sukaesih, A.Haris, dan Ellya Khadam (pelantun lagu boneka dari India).

Asal-usul Musik Melayu
Dr. A.K Gani, tokoh Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), pada tahun 1938, menggunakan istilah "Melayu" dalam musik. Di mata Gani, musik melayu adalah musik rakyat, dan katanya, "Bisa di manfaatkan untuk membangkitkan nasionalisme." Gani memasukkan kerongcong, orkes harmonium, dan irama Malaya ke dalam rumpun orkes melayu. Radio Republik Indonesia adalah media pertama yang meluaskan orkes Melayu hingga naik pamor dan menjadi musik yang merakyat.

Terpengaruhnya Musik Melayu
Melayu, kemudian mendapat pengaruh dari musik arab, dengan mulai di gunakanya gambus dan rebana, juga gendang yang menghentak. Bersamaan dengan populernya musik melayu, pada awal 1960-an, pemerintah Demokrasi Terpimpin membuka keran lebih lebar bagi film India, sementara film barat di tutup. Raj Kapoor pun menjadi bintang yang paling di puja. Sementara para pemusik melayu yang dinamis dan berirama mulai melirik ilustrasi musik India di film-film India. Mereka memasukkan sisi sentimental yang meratap seperti film India ke dalam musik Melayu, dan itu masih berlanjut sampai sekarang! Bahkan tambah mengerikan!! kita sebut saja Heavy Melayu, atau Melayu Core!

Kemunculan Dangdut
Rhoma Irama
Instrumen orkes Melayu pun mulai berubah. Peran gendang mulai digantikan tabla yang populer di India. Munif Bahasawan, penyanyi dan penulis lagi dangdut, seperti di kutip Tempo (30 Juni 1984), menyebutkan "Kudaku Lari" (1953) sebagai lagu pertama yang memberanikan diri memasukkan suara gendang ala India pada orkes yang semula hanya memakai gitar, harmonium, bas dan mandolin. Irama yang sama juga pada lagu India asli Awarabum.
Dangdut adalah salah satu sub genre musik Melayu yang mendapatkan pengaruh kuat irama musik India dan Arab. Dangdut secara sengaja dan tidak di akui, sebenarnya di populerkan oleh Rhoma Irama. Rhoma Irama (dulu Oma Irama) pada awal-awal pemunculannya itu pun menolak istilah yang saat itu mulai banyak digunakan. Rhama berkeras menyebut orkesnya "Melayu". Ia menyebutkan istilah dangdut itu di berikan pada mereka yang tak suka irama Melayu.Said Effendi yang tak senang dengan istilah "Dangdut", dalam Tempo (5 Mei 1979) mengatakan, "Istilah itu muncul karena perasaan sinis dari mereka yang anti musik Melayu."


Musik di Era Orde Lama
Pada kamis 1 Juli 1965, sepasukan tentara dari Komando Operasi Tertinggi (KOT) menangkap kakak beradik Tony, Yon, dan Yok Koeswoyo dan mengurung mereka di penjara Glodok. Kemudian Nomo Koeswoyo atas kesadaran sendiri, datang menyusul. Adik alm Tony Koeswoyo itu rupanya memilih, "mangan ora mangan kumpul" ketimbang berpisah dengan saudara-saudara tercinta. 
Adapun kesalahan mereka adalah karena sering memainkan lagu-lagu The Beatles yang di anggap meracuni generasi muda saat itu. Sebuah tuduhan yang tanpa dasar dan mengada-ada, mereka di anggap memainkan musik "ngak ngek ngok", istilah Pemerintah Berkuasa saat itu untuk musik yang cenderung imperialisme pro barat. Dari penjara justru menghasilkan lagu-lagu yang sampai saat sekarang tetap menggetarkan, "Didalam Bui", "jadikan aku dombamu", "to the so called the guilties", dan "balada kamar 15". 29 September 1965,sehari sebelum meletus G 30 S-PKI, mereka dibebaskan tanpa alasan yang jelas.belakangan setelah Peristiwa itu berlalu,Koes Bersaudara yang masih hidup dan menginjak usia tua melakukan testimoni di depan pemirsa acara talkshow KICK ANDY (Metro TV)pada akhir 2008 bahwa di balik penangkapan mereka sebenarnya pemerintahan Soekarno menugaskan mereka dalam sebuah operasi Kontra Intelejen guna mendukung gerakan Ganyang Malaysia.

Perkembangan musik Melayu dan Dangdut
Sebagai musik populer, dangdut dan melayu sangat terbuka terhadap pengaruh musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, pop bahkan rock dan house music. Dangdut benar-benar terlalu terbuka, dan bahkan menghilangkan ciri khas dangdut itu sendiri, bahkan terdapat plesetan lain, seperti Rockdut dan Skadut. Rockdut adalah kombinasi antara musik Dangdut dan Rock, di mana dangdut mulai di mainkan dengan instrumen listrik. Sementara Skadut adalah kombinasi antara musik Dangdut dan Ska yang berasal dari Jamaika. Pokoknya campuran-campuran kaya gini berbahaya, mengaburkan batas musik yang satu dengan yang lain, ini bukan seperti RnB, atau Rockabilly. Ini seperti mencampur tahu campur #yang sudah tercampur, dengan soto! Sementara Dangut yang menggunakan tambahan beat elektronik dan dj, sering di sebut juga Dangdut House, Dangdut Remix, Remix House, Dangdot Koplo, Dangdut Asalole atau DJ dangdut. Beberapa aliran baru ini di populerkan oleh Inul Daratista, Lina Geboy, Putri Aulia, Trio Macan, Melinda, dan Ayu Ting Ting.

Perkembangan Pop Melayu
Kangen Band
Pop Melayu adalah salah satu gabungan genre musik asal Indonesia, Melayu dengan Pop. Musik Pop Melayu di populerkan kembali pada abad ke 21 ini oleh terutama oleh ST12, Wali Band, dan Kangen Band. Kangen Band adalah band Pop Melayu yang meroket setelah album perdana mereka "Tentang Aku, Kau, dan Dia". Saudara mereka, Wali Band, menjadi terkenal setelah lagu yang berjudul "dik" di keluarkan. Sementara ST12, yang paling sukses di antara ketiganya meroket berkat hitsnya "PUSPA" dari album "Jalan Terbaik". Band-band Pop Melayu yang juga mengusung aliran Pop Melayu ini adalah D'Bagindas, Goliath Hello, Sembilan,Repvblik, D'massive dan The Potters.

Kontroversi Pop Melayu
ST12
Pop Melayu mendapatkan sambutan yang bagus dari masyarakan Indonesia "PADA UMUMNYA", termasuk saya waktu itu, Damn, i love st12. Yah, waktu itu saya bahkan gak tau tentang Marjinal, atau Ramones, atau Undergod. Maklum, manusia butuh waktu, dan waktu saya cukup singkat, gak butuh waktu lama bagi saya untuk mengerti, "APA ITU MUSIK BERKUALITAS".Industri musik bawah tanah, musisi aliran musik alternatif dan band-band indie sangat membenci Pop Melayu di saat popularitasnya seperti sekarang ini. Ada banyak hal yang melandasi kebencian mereka, sangat banyak bahkan. Salah satunya adalah masalah lirik band-band yang mendayu tersebut. Suara vokalis st12, yang melayu total tersebut, berlawanan dengan favorit pecinta musik bawah tanah, yang biasa teriak, scream atau nyaring. Sebagian besar band Pop Melayu menyanyikan lagu sedih atau lagu cinta. lagu hits Wali Band, berjudul "Dik", menceritakan seorang pria galau, yang sedang dilema memikirkan seorang, di sini di sebut "dik". Maksud dari kebencian ini adalah, kenapa tidak membuat lirik yang lebih berbobot. Atau kenapa harus cinta? kenapa harus cengeng? Hal ini berlawanan dengan sebagian besar aliran musik lain, seperti Ska yang energetik dan bersemangat, Punk Rock yang liar, dan Heavy Metal yang keras.
ST12, Metal apaan tuh? Jamet?
Video klip juga menjadi alasan Pop Melayu di benci, video mereka sangat lebay, laki-laki lagi nangis ujan-ujanan menunggu di pagar rumah sang kekasih. Atau lagi bersedih menunggu kesembuhan sang kekasih, agar lekas sembuh. Atau lagi galau seharian soalnya habis di putusin pacar. Jadi negh ngeliatnya.Alasan lainya adalah  karena mereka mau ngikutin selera pasar, atau mau tunduk di bawah "ketek" studio rekaman. Demi mendapatkan uang, mereka mau merubah aliran mereka. Seperti gaya para pemain ST12 yang bahkan ternyata menyukai jazz, blues, rock dan terkadang country. Dan syukurnya, ST12 dan Kangen Band sudah bubar, menyusul Wali mungkin nanti.

Menanggapi musik Pop Melayu
Seseorang bernama Kangdim, berkomentar :
"Tak ada yang salah dengan pop melayu, sama2 sbg karya seni yang patut diapresiasi. Tapi secara, aku sedih jika pop melayu menjadi mainstream wajah permusikan Indonesia. Sebab, Pop Melayu mengedepankan sisi emosi melalu cengkok dan pilihan kata dalam liriknya yang mendayu2. hal itu menyebabkan ia kehilangan "kekuatan". Tapi selagi lagi, tdk ada yang salah dengan pop melayu ataupun dangdut sekalipun. Mestinya musisi rock dan pop ala Indonesia lebih gigih berkarya lagi agar bisa merebut kembali hati masyarakat, jangan cuma mengecam sebab itu hanya menunjukan rasa frustasi saja. Jayalah musik Indonesia....!
Di ambil dari : http://toglu.wordpress.com/2010/04/03/kontroversi-pop-melayu/
Wali Band
Jadi, kita ambil kesimpulan begini, kita wajar kecewa dengan Band pengusung Pop Melayu tersebut. Mereka memiliki lagu lemah, cengeng, dan gagal tersebut #walaupun tidak sedikit juga lagu mereka yang bersemangat. Tapi sebagai seorang "PECINTA MUSIK" sangat tidak layak bagi kita untuk menganaktirikan suatu aliran musik. Tidak ada larangan untuk itu, tapi ada suatu perjanjian tidak tertulis di sini. Musik itu, apapun bentuknya, ritme, instrument, vokal, beat, ataupun lyrik tetaplah musik. patut di camkan!!
ST 12 dan penyalahgunaan Devil Horn
ST12 dan Devil Horn
Ada jalan pintas lain ketimbang menyerang penonton konser Wali Band, atau membakar atribut mereka, menyobek poster mereka, dan menyerang Para Wali #fans Wali Band. Cukup menutup telinga dan berpaling dari sumber suara, yang mendengarkan lagu Pop Melayu, misalnya radio. Bila melihat mereka di televisi, tinggal ganti chanel. Jika ingin serius bergerak lagi, buatlah film dokumenter bagaimana musik Pop Melayu merusak, bukan merusak, tapi membuat buruk dunia permusikan Indonesia, terutama di Dunia. Di mana musisi Indonesia, hanya sedikit yang di kenal dunia #bukanya tidak ada, cukup banyak sih. Atau buatlah demonstrasi massa di Kementrian Kebudayaan, untuk membuat Indonesian Alternative Rock Chart, dan menampilkan posisi lagu rock Indonesia papan atas. Buat juga blog dan teriakan suaramu, sperti yang di lakukan Teriakan Oi!. Rekomendasikan temanmu untuk mendengarkan lagu-lagu berkualitas seperti Rancid, Big D and The Kids Table, The Hydrant, The S.I.G.I.T, atau yang lainnya. Kunjungi Musikator.com agar mengetahui band-band indie, atau minor label dan yang menempuh jalur underground. Lagipula, bila anda mengatakan gaya bermain mereka jelek, cuma tunjukan kepada semua orang, bagaimana gaya bermain musik anda! Begitu!
D'masiv
Sembilan Band
Para musisi Indonesia terutama, juga perlu bergerak aktif. Buatlah musik berkualitas anda di dengar mereka yang bermuka tebal #akibat terus-terusan mendengarkan musik Pop Melayu. Bagi anda musisi beriman, terkadang tidak perlu money untuk menggerakan hati anda, cukup kepuasan dalam berkarya. Tapi tidak ada salahnya juga untuk mencoba mendatangi Aquarius dan tunjukan musik anda. Siapa yang tidak mau money, dan band nya tenar?? hahaha. Jangan begitu menyalahkan musisi Pop Melayu, bagaimanapun juga mereka berkarya, walaupun karyanya jelek. hehehe. Salahkan juga studio rekaman, mereka membatasi genre alternative dan mengutamakan selera pasar, sayangnya selera pasar yang salah.


Tidak apa-apa di Indonesia terdapat musik Pop Melayu, atau mungkin tidak usah ada, asalkan jangan menjadi mainstream dan menjadi wajah permusikan Indonesia.Jadi mari kita angkatkan tangan dan tunjukan jari tengah kepada Melayu-Core, sambil tersenyum! ^_^

#Note
Teriakan Oi! dengan berat hati menampilkan wajah norak mereka, sebagai ilustrasi artikel saja. Kunjungi juga salah satu band Melayu lokal ini :
Bunga Band Day
Bantu Teriakan Oi! menyaringkan volumenya dengan menyarankan teman anda mengunjungi Teriakan Oi! dan berbagi tautan di jejaring sosial.
Komentarnya di tunggu!
Salam Oi! Oi! Oi!

7 komentar:

  1. kaya taik st12 mah, tangannya lagi apaan tuh?? metal melayu kah??? taikkk, lemahhhh!!!! bangsat st12

    BalasHapus
  2. TANGANNYA METALLL MELAYU TOTAALLLL


    ANJING TU MELAYU DANGDUT MUSIK KAMPUNGANNNNN
    MUSIK TIDAKADA SEMANGAT HIDUP

    WALI,ST12,KANGEN BAND JELEK SEMUA ANJING

    APALAGI ROMA IRAMA BANGSAT JUGA DIA

    LEBIH BAIK VISUAL KEI KALAU TIDAK TAU VISUAL KEI MATI AJA LOEEEE

    BalasHapus
  3. haha loe anak metal ngapain ngurusin genre lain. musik untuk di nikmati. pantesan anak metal gk berprestasi karna anak metal indo gk ngerti musik. dengerin lagu metalica. hayati liriknya. judul one, nothing else metter. lagu itu cengeng kan? bahkan queen love if my life dan bohemian repsody. tapi mereka bukan musisi cengeng tapi karna emosi. musik adalah emosi. emosi gk hanya teriak tapi bagaimana dia mengekspresikan perasaannya. okey belajar musik lagi ya anak metal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gaya mu so bat ngerti musik broo..

      Hapus
  4. Musik adalah emosi dengan pengekspresian yg beragam. Its right.. Yg jadi masalah disini adalah "PERBEDAAN MUSIK BERKUALITAS DENGAN MUSIK LEBAY SPERTI SKARANG..!!"

    BalasHapus
  5. Aku rakyat malaysia. Tapi aku cukup kagum dengan lagu pop melayu indonesia. Aku juga meminati semua genre musik termasuk metal. Selalunya orang yang fanatik dengan dirinya adalah lemah. Mahu menunjuk sisi keras dengan musiknya, tapi emosional lebih dari musik yang dikecamnya. Kasihan.

    BalasHapus